Terbaru | Download Novel Stolen Heart By Pradnya Paramitha PDF

download novel stolen heart pdf pradnya paramitha
download novel stolen heart pdf Pradnya Paramitha

Selamat datang di CarinNovel. Setelah sebelumnya kita membahas download novel pdf “Restaurateur”, pada pertemuan kali ini aku mau berbagi novel “Stolen Heart” karya Pradnya Paramitha pdf. Novel ini telah di baca lebih dari 1 juta kali di wattpad, dan didukung oleh 70 ribu pembaca. Novel ini memiliki isi (-) bab novel. Dibawah adalah detail dari novel wattpad Stolen Heart pdf.

Kumpulan download novel pdf Terbaru 2021 ada di beranda (akan di update selalu), dan kalian juga bisa mendownload novel karya Pradnya Paramitha lainnya disini.

Detail Novel Stolen Heart

Deskripsi:
Judul : Stolen Heart
Karya : Pradnya Paramitha
Genre : Romance
Rilis Tahun : 2021

Halaman : 224
Rating (Dari 10) : 9.1

Sinopsis :

Tugas seorang Back-end Developer adalah memastikan sistem dalam website berjalan dan bekerja sesuai aturan. Hal ini membutuhkan logika yang matang. Sedikit gangguan bisa menghasilkan bug yang membuat website terganggu.

Kurang lebih seperti itulah kehidupan Juni. Menjadi web developer di sebuah agensi mempengaruhi sebagian besar hidupnya. Bukan cuma soal tekanan kerja yang gila-gilaan dan gaji lumayan yang memang sepadan maupun rasa lelah menjelaskan saat orang bertanya kenapa dia memilih berkarier di dunia pria. Berkutat dengan berbagai bahasa pemrograman ternyata juga “mengganggu” pola pikirnya.

Seumur hidup Juni memastikan hidupnya selaras dengan logika dan sistem yang dia buat sendiri. Gangguan-gangguan kecil dia atasi dengan gesit, dan seharusnya hidupnya memang seperti itu. Setidaknya sampai dia bertemu dengan pria berbau cat dan matahari. Kehadirannya memaksa Juni untuk mengakui bahwa logika bisa kalah dengan logika lainnya dan seperti itulah seorang hacker bekerja. Kini masalahnya bukan lagi soal bugs yang membuat website berujung pada “500 System Error”, melainkan seperti virus Trojan yang menghancurkan sekaligus mengubah seluruh sistemnya.

Baru kali ini, Juni merasa gagal.


Link : Disihttps://ponselharian.com/tj2RPOUWni (1,85 Mb)


Jika link rusak segera beritahu kami! kami akan menggantinya secepatnya. Dan mulai sekarang kalian tidak perlu lagi login maupun menambahkan e-mail agar bisa mengomentari atau melaporkan. Kami Sangat Menjaga Privasi Pengguna.

Cuplikan dan Review Novel Stolen Heart

Chapter 1

[…]

Ini adalah proses yang dialami Juni berulang-ulang. Mengambil brief dari klien, membuat timeline dan planning. Berkoordinasi dengan front-end developer, lalu memulai proses developing website selama berminggu-minggu. Setelah proses ‘ngoding’ selesai, harusnya Juni bisa menghela napas lega. Mandi susu atau pijat refleksi kalau perlu. Tapi Andri selalu merusak angan-angannya untuk memanjakan diri. Sebagai Quality Assurance, Andri bertugas mengecek apakah semuanya sudah sesuai dengan permintaan klien yang disetujui di awal. Apabila belum, perjuangan Juni masih panjang. Sejak tiga jam yang lalu, Juni mengubek-ngubek kode-kode untuk menemukan bug yang membuat responsive design–kemampuan website untuk tampil optimal dan tetap enak dilihat saat diakses dengan perangkat apa pun–gagal bekerja. Seharusnya ini jadi pekerjaan Ferdi, sang front-end developer. Tapi karena Ferdi sedang cuti nikah, semua tanggungan jatuh ke Juni, yang kebetulan memahami CSS.25

Revan terkekeh. “Tapi seenggaknya, udah mau kelar kan? Satu project selesai. Leganya ngalahin nikahan.”

Kali ini Juni yang tertawa. Revan membuat analogi yang sangat tepat. Saat dia hendak kembali ke kubikelnya, lagi-lagi Revan menertawai penampilannya.

“Seriously, Jun, lo butuh mandi. Air hangat. Kalau perlu ke salon.” katanya sungguh-sungguh.

Juni mengedikkan bahu. “Tiati, Van. Lo tahu kan apa akibatnya kalau gue dandan?” Tanyanya dengan senyum tanpa dosa yang disambut tawa kecil Revan.4

Tapi, tepatnya itulah yang dia lakukan. Pukul 9 pagi ketika Mediashare secara resmi beroperasi, Mas Pras, si Technology Manager, menyuruhnya pulang.1

“Plis deh Jun, gue udah biasa ya lihat Revan dan cowok-cowok ini ngegembel lusuh kayak mahasiswa lagi ngejar deadline skripsi gini. Tapi lo adalah satu-satunya yang bisa dilihat di sini. Jangan ikut-ikutan. Sana pulang dan balik sebelum jam makan siang!”5

Terdengar sedikit seksis? Alasan yang sebenarnya adalah, mereka dan Account Executive harus mengambil brief dari klien untuk project baru setelah jam makan siang. Dan alasan itu sudah cukup menuntut Juni untuk, setidaknya, berpenampilan layak seperti pekerja kantoran. Bukan seperti anak Pramuka yang sedang persami dan tidak ketemu air selama dua hari,

[…]

Chapter 2

[…]

Ini adalah fakta paling unik tentang persahabatannya dengan Sandra. Semua orang mengenal mereka sebagai duo. Mereka selalu menempuh pendidikan di tempat yang sama sejak SD. Mungkin juga jauh dari sebelum itu. Juni bahkan tidak bisa mengingat kapan mereka mulai bersahabat. Bagi Juni, Sandra selalu ada dalam setiap episode hidupnya, bahkan yang terburuk sekalipun. Sandra adalah orang pertama yang memaki-makinya bila Juni mengambil keputusan yang buruk, tapi Sandra juga orang yang selalu ada di sisi Juni, apa pun keputusannya.

Tapi kenal dan bersahabat entah sejak kapan pun tidak membuat mereka otomatis cocok atas segala hal. Salah satunya adalah pandangan soal pernikahan. Apa Juni sudah bilang kalau Sandra itu tipe cewek-cewek yang dibesarkan oleh dongeng dengan ending happily ever after? Ya, Sandra semacam itu. Nikah muda adalah salah satu cita-cita yang dia ucapkan setiap tahun. Sementara Juni? Mungkin dia juga akan percaya, seandainya tidak ada kenyataan yang datang dan menamparnya keras-keras di muka. Bahwa masih ada cerita yang jarang diexpose, di balik tulisan ‘happily ever after’ yang digembar-gemborkan itu.2
“Emang lo nggak takut hidup sendirian selamanya, Jun? Menua sendirian dan…mati sendirian?” Tanya Sandra sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah.1

“Yang bilang nggak mau nikah itu siapa sih?” Juni balas bertanya. Kali ini sambil menyibak selimutnya, dan mencari-cari sandal hotel miliknya. “Gue nggak pernah bilang begitu.”3

“Ya tapi lo kabur mulu kalau ada yang serius-serius!”

“Dengerin ya Sandra baby, gue akan nikah saat gue emang mau nikah dan punya alasan untuk nikah. Bukan sekadar menghindari pertanyaan ‘kapan nikah’ hanya karena gue udah tua! Mengerti?” Katanya sambil berjalan ke kamar mandi.12

Kamar kos ini sudah menjadi tempat tinggal Juni sejak bekerja di Mediashare hampir lima tahun lalu. Kamar tidur berukuran 4 x 6 dengan kamar mandi di dalam itu memang cukup mewah untuk ukuran kos. Namun bagi Juni, tidur nyaman adalah segalanya. Karena itu, dia tak keberatan membayar sedikit mahal setiap bulan.

[…]

Chapter 3

[…]

Ada banyak alasan bagi Juni untuk membenci Harsya. Pertama, pria itu kaya raya dan bisa liburan kapan saja tanpa perlu meributkan soal cuti kerja yang tidak diapprove atasan. Kedua, Harsya terlalu sering memakai kata “papaku begini” dan “papaku begitu” yang membuat Juni muak. Ketiga, pria itu sangat percaya diri dan meyakini semua orang menginginkannya termasuk Juni. Keempat, pria itu jelalatan! Yang terakhir inilah yang membuat Juni paling senewen dan tak habis pikir bagaimana Sandra bisa mendadak buta kalau soal kebusukan pacarnya ini.7

Saat Sandra tidak ada–atau Sandra tidak melihat–Harsya sering menatapnya lekat-lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seperti sedang menilai, atau memutar imajinasi jorok di kepalanya yang berdahi lebar. Hih! Rasa muak itu selalu muncul di ulu hati Juni saat menemukan tatapan mesum di wajah Harsya. Sayangnya, Juni tidak bisa mengatakan ini pada Sandra. Sebenarnya sudah sering, namun sahabatnya itu sudah terbutakan oleh asmara dan menganggap Juni berlebihan saja. Bila diteruskan, mereka malah akan bertengkar dan Sandra menuduhnya yang bukan-bukan.11

Sandra berusaha setengah mati untuk membuat Juni lebih mengenal Harsya dan menyadarkan bahwa pendapatnya salah. Tapi Juni pilih mati ketimbang ditinggal berduaan dengan Harsya. Seperti malam ini. Mood Juni seketika hancur ketika dia sampai di Perfect Getaway dan Sandra telat. Sudah ada Harsya ketika Juni tiba.1

“Dari kantor apa kosan, Jun?” Tanya Harsya dengan kelembutan yang sangat dibuat-buat.1

“Kosan. Sandra di mana?”

Juni mulai celingukan, memindai Perfect Getaway untuk mencari alibi. Sayangnya, di jam 9 malam, night club ini memang belum terlalu ramai.
“Udah deket kok. Kamu mau minum apa?”

[…]

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.