September | Download Novel Tinderology By Larasaty Laras PDF

2022, CarinNovel September | Download Novel Tinderology By Larasaty Laras PDF
novel Tinderology pdf larasaty laras

Selamat datang di CarinNovel. Setelah sebelumnya kita membahas download novel pdf “the king of the world”, pada pertemuan kali ini aku mau berbagi novel “Tinderology” karya Larasaty Laras pdf. Novel ini telah di baca lebih dari 1,9 juta kali di wattpad, dan didukung oleh 240 ribu pembaca. Novel ini memiliki isi 39 bab novel. Dibawah adalah detail dari novel wattpad Tinderology pdf.

Kumpulan download novel pdf Terbaru 2021 ada di beranda (akan di update selalu), dan kalian juga bisa mendownload novel karya Larasaty Laras lainnya disini.

Detail Novel Tinderology

Deskripsi:
Judul : Tinderology
Karya : Larasaty Laras (@larasatylaras26)
Genre : Romance
Rilis Tahun : 2021

Halaman : 354
Rating (Dari 10) : 8,5

Sinopsis :

Tinder, satu dari sekian banyak dating aplikasi yang mempertemukan banyak orang.

Dan, Arawinda Kani (Awi), seorang Public Relation Officer yang bisa dibilang sophisticated, punya beberapa teori untuk pengguna Tinder. Dia menyebutnya Tinderology:

  1. Tinder untuk orang-orang tidak sibuk.
  2. Kalo dia ganteng atau cantik, ngapain main tinder?
  3. Tinder adalah jalan pintas, untuk ke-desperate-an kaum single.
  4. Cara mudah nyari jodoh, tinggal swap kanan atau kiri.
    Lalu, setelah swap kanan dan kiri, tulisan “It’s a match!” muncul, dan mengenalkan Awi pada Rajiman Aksa (Aji), si tukang semen super kaku. Hidup Awi jadi nggak seperti biasa lagi, dia jadi punya sedikit waktu untuk chat dengan Aji. Selain disibukkan dengan meeting, traveling, dan menjaga hubungan baik dengan relasi bisnis perusahaannya. Belum lagi, bosnya yang berdarah Inggris super cerewet dan selalu mengajaknya untuk menghadiri meeting secara dadakan. Kalau jodoh Awi itu kemungkinan Aji, yang jaraknya sekitar 2 km. Jadi, berapa kilometer jodohmu?


Link : Disini (4,3 Mb)


Jika link rusak segera beritahu kami! kami akan menggantinya secepatnya. Dan mulai sekarang kalian tidak perlu lagi login maupun menambahkan e-mail agar bisa mengomentari atau melaporkan. Kami Sangat Menjaga Privasi Pengguna.

Cuplikan dan Review Novel Tinderology

Chapter 1

[…]

Fala tertawa ngakak sambil menggebrak-gebrak meja. “Siniin coba hape lo!”

“Buat apaan?”

“Udah siniin!” Fala mengibas-ngibaskan tangannya meminta hapeku. Aku nggak peduli dengan apa yang dilakukan Fala dengan hape-ku itu, woman, soto betawi di perut keroncongan seperti sekarang ini itu juara sekali! Aku bahkan nggak peduli ada Tom Cruise lewat depan aku sambil bawa semangkok rawon. Bodo amat udah!
4
“Nih, nih!” Fala menyodorkan hape-ku. Aku melihatnya dan langsung terpampang sebuah foto laki-laki dengan kaca mata hitam dan rambut super euwhhh, aku nggak tahu ini jenis potongan apa. Bros?
1
“Apaan sih, ini? Lo mau ngenalin gue sama laki-laki model begini?” Aku langsung merinding ngeri dan melotot pada Fala.

“Itu namanya aplikasi Tinder.”8

“Apa lagi itu?”

“Semacam dating application gitu deh, Wi. Ini anak-anak lantai gue lagi pada iseng mainin ini. Seru katanya.”

“Fa,” aku memandang Fala dengan kesal. “Gue nggak se-hopeless itu buat dapetin cowok yang gue mau!” Aku kembali menatap aplikasi itu dengan sedikit ngeri. “Terus ini mainnya gimana?”32

“Nah! Penasaran juga kan, lo?” Fala kemudian mengajarkan padaku cara memainkan Tinder yang terhubung langsung dengan platform Facebook. “Ini lumayan save, jadi lo bisa liat dulu profil cowoknya. Ntar ketauan common friend-nya. Jadi, ya gitu. Ini jaraknya udah gue atur sekitar 10km aja. Jadi, ntar nggak jauh-jauh amat kalo lo mau kopi darat.” Lalu Fala juga mengajariku seperti swap kiri kalo kita nggak suka dan swap kanan kalo kita suka.4

“Terus gimana dengan lemak babi?” setelah masalah Tinder itu kelar, Fala membahas apa yang sedang aku kerjakan.

[…]

Chapter 2

[…]

Jam 2 malam kami masih belum bisa tidur, How I Meet your Mother masih menemani kami mengobrol ngalor-ngidul. Dan setelah sapaan basa-basi tadi, obrolan di Tinder dengan pria bernama Rajiman Aksa tidak berlanjut. Berhenti. Stuck.1

“Umur 30 masih main Tinder, dia nggak laku apa ya, Fa?” Kami sudah tidur-tiduran di karpet depan TV, meja sudah kami singkirkan.
1
Benar kan, kataku? Pria, tampan, Hot, 30 tahun dan belum menikah tapi masih main Tinder. Mengenaskan sekali hidupnya, kan? Memangnya di kantor tempat dia bekerja nggak ada wanita seksi yang bisa bikin dia jatuh cinta apa? Lagian, kalau aku lihat dari foto-foto Rajiman Aksa ini, dia itu tipikal cowok banyak penggemar. Apalagi, di tempat dia bekerja posisinya bisa beliin bini dia tas LV atau Hermes yang harganya dua kali dari gaji aku sebulan.
3
“Iseng, mungkin.”

“Iseng?” Aku mengeryit bingung. “Fa, menurut gue nih, ya, orang-orang yang pakai Tinder itu udah desperate banget mau nyari jodoh tapi nggak dapet-dapet.”

“Ah, nggak juga. Temen kantor gue, mainin itu buat have fun doang, nggak dibawa serius. Ya tapi, kalau nyangkut mah, ya syukur.”1

“Lagian ya, Fa, si Rajiman, Rajiman ini ganteng tau! Ini penilaian pertama gue lho, ya. Dia menarik. Nah, kalau dia ganteng ngapain mainin Tinder? Emang dia punya banyak waktu buat swap kanan-kiri milihin cewek di Tinder? Selow banget hidup dia. Ya, berarti dia di Pabrik Semen kerjaannya ngaduk semen doang kali ya, jadi, sambil ngaduk sambil mainin. Hehehe.”19

“Ngaco!” Fala menimpuk kepalaku dengan boneka kelinci milikku. “Bisa jadi… eumm, apa ya, bisa jadi…”

[…]

Chapter 3

[…]

“Kok, cuman 8 Wi?”

“Kayaknya orangnya kaku, terus… hmm, nggak berpengalaman sama cewek juga.”

“Ganteng kayak di fotonya?”

Aku menaik-naikkan alisku dan tersenyum. “Dia nggak photogenic. Aslinya lebih hawwwttt!!!”10

“Ngobrolin apa aja tadi?”1

“Nggak banyak, soalnya Madam British telepon gue suruh balik ngerodi!”

“Ah, nggak asyik! Dia ada nawarin lo balik ke kantor diantar dia nggak?”

Aku mengangguk dengan penuh semangat. “Tapi gue tolak. Soalnya dia naik Ducati, sih! Gue ribet manjatnya pake heels gini.” Aku mengangkat sedikit kaki kananku.

“What?! Ducati?! Kemal aja cuman sanggup elus-elus doang, kalo ada pameran otomotif. Gila!”14

“Halah! Itu lo nya aja yang nggak ngebolehin Kemal! Dia sih, mampu-mampu aja. Lagian ya Fa, bisa aja itu Ducati masih nyicil. Kayaknya Aji lebih milih beli motor daripada beli mobil dengan harga yang sama.”

Mobil Kemal berhenti di parkiran lobby lalu kami segera masuk ke dalam mobil. Dulu, waktu aku masih punya pacar, aku dan Fala sering banget double date dan weekend getaway bareng, jadi aku sama Kemal sudah nggak canggung lagi kalau ketemu.
“Hai, Mal!” Aku menyapa Kemal setelah dua sejoli itu cium pipi kanan-kiri. “Makasih lho, gue diijinin incip-incip. Tau aja lo, tanggal kering begini. Hehehe.”1

“Gue sama Fala ngajakin lo karena lo lebih ngerti masalah makanan begini. Selera lo nggak main-main dah, kalo soal makanan.”

[…]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.