September | Download Novel Zahra dan Abyan By Nurmalita Yasmin PDF

download novel Zahra dan Abyan karya nurmalita yasmin pdf wattpad
novel Zahra dan Abyan pdf nurmalita yasmin

Selamat datang di CarinNovel. Setelah sebelumnya kita membahas download novel pdf “Tinderology”, pada pertemuan kali ini aku mau berbagi novel “Zahra dan Abyan” karya Nurmalita Yasmin pdf. Novel ini telah di baca lebih dari…juta kali di wattpad, dan didukung oleh…ribu pembaca. Novel ini memiliki isi …bab novel. Dibawah adalah detail dari novel wattpad Zahra dan Abyan pdf.

Kumpulan download novel pdf Terbaru 2021 ada di beranda (akan di update selalu), dan kalian juga bisa mendownload novel karya Nurmalita Yasmin lainnya disini.

Detail Novel Zahra dan Abyan

Deskripsi:
Judul : Zahra dan Abyan
Karya : Nurmalita Yasmin
Genre : Romance, Comedy
Rilis Tahun : 2021

Halaman : 284
Rating (Dari 10) : 8,4

Sinopsis :

“Aku nggak pacaran.”

“Kenapa? Masih belum move on dari mantan?”

Zahra tersenyum, lalu menggeleng lagi.

“Nggak boleh pacaran sama bokap lo?”

Lagi-lagi Zahra menggeleng.

“Terus?”

“Nggak boleh sama Allah.” Bisik Zahra pelan dan diakhiri dengan senyuman manis di bibirnya.


Link : Disini (2,4 Mb)


Jika link rusak segera beritahu kami! kami akan menggantinya secepatnya. Dan mulai sekarang kalian tidak perlu lagi login maupun menambahkan e-mail agar bisa mengomentari atau melaporkan. Kami Sangat Menjaga Privasi Pengguna.

Cuplikan dan Review Novel Zahra dan Abyan

Chapter 1

[…]

“Ngapain lagi tuh si Abyan? Pasti dia buat masalah lagi.” Gina bergumam sendiri.
“Kenapa Gin?” Zahra, siswi baru sekaligus teman satu mejanya Gina bertanya padanya.3
“Itu, tadi namanya Abyan. Dia itu biang keroknya dari sekolah ini. Setiap ada masalah, nggak lain dan nggak bukan. Pasti dia penyebabnya.” Gina mengetuk-ketukkan pulpennya di meja.
Zahra mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O sambil mengangguk-angguk.
Zahra yang latar belakangnya adalah lulusan pesantren di Bandung, baru kali ini bersekolah di sekolah umum yang tidak ada unsur keagamaan yang kental. Namun, ia tetap menggunakan hijab di sekolah. Di hari pertama ia masuk sekolah, hampir semua teman-teman sekelasnya memberikan label “ibu haji” padanya. Untunglah semakin hari, teman-temannya mulai terbiasa dengan hijabnya. Di sekolah ini memang tidak terlalu banyak yang menggunakan hijab. Ia masih harus beradaptasi lagi di sekolah ini, karena ia baru menginjak hari ketiganya di sekolah.1
“Ya, coba sekarang bapak minta Zahra, tolong kamu selesaikan soal ini di papan tulis.” Tiba-tiba Pak Sapto meminta Zahra maju ke depan.
Beberapa orang langsung mengeluarkan suara dan mengelus dadanya. Mungkin mereka bersyukur, bukan nama mereka yang dipanggil oleh pak Sapto.

Dengan seulas senyum di bibirnya, Zahra maju ke depan kelas dan menyelesaikan soal yang diminta oleh pak Sapto.

[…]

Chapter 2

[…]

“Lo pasti komat-kamit dulu ya sebelum ketemu Abyan? Hahahaha.” Yola tertawa.

Zahra tersenyum. “Kalian ini terlalu berlebihan deh. Mereka juga manusia kok. Kalau kita bicara baik-baik sama mereka, pasti mereka juga menanggapi dengan baik.”
“Zahra, lo masih belum tau Abyan itu gimana. Gue pernah main basket saat pelajaran olahraga, dan bolanya keluar lapangan. Bola itu berhenti di deket Abyan, dan gue minta tolong sama dia untuk lemparin bolanya ke gue. Dan lo tau apa yang dia lakuin?” Wulan memasang wajah misterius.
Zahra menaikkan salah satu alisnya.

“Dia lempar bola itu ke dalam kolam ikan.” Wulan memutar bola matanya malas.

Zahra tertawa. “Mungkin dia nggak sengaja lakuin itu.”
“Mana mungkin nggak sengaja? Jelas-jelas gue berdiri di lapangan, dia malah lempar bolanya ke arah kolam ikan. Gimana nggak kesel?!” Wulan mulai tersulut emosi.
“Makanya Ra, kita agak nggak percaya juga sih kalau dia mau matiin rokoknya cuma dalam hitungan detik karena disuruh sama lo.” Yola mengangguk-angguk.
“Dia pernah berantem sama Aldy anak kelas XI IPA 3 di lapangan sekolah, dan akhirnya mereka di skors selama 1 minggu.” Gina kali ini menambahkan.
“Tapi gue heran, kenapa Nisya bisa suka sama tuh anak brandal.” Yola menggaruk-garuk kepalanya.

[…]

Chapter 3

[…]

“Astagfirullahaladzim Ara! Kamu teh kunaon teteh?” Mama Zahra membukakan pintu untuk Zahra ketika ia baru saja tiba di rumah. Mama langsung khawatir dengan logat Sundanya yang cukup kental.5
“Ara nggak apa-apa Mama. Tadi tuh Ara mau melerai temen Ara yang lagi berantem. Eh, Ara malah yang kena pukul.” Zahra nyengir tidak bersalah memamerkan deretan gigi putihnya.

“Ya Allah! A Tio.. A.. Sini! Tingali yeuh adina! (Kak Tio..Kak.. Sini! Liat nih adiknya!)” Mama memanggil Aa Tio, panggilan untuk kakaknya Zahra yang sudah berkuliah di Universitas Indonesia, jurusan Kedokteran.
Tio baru menginjak semester 2 di kampusnya. Sebelum keluarganya pindah ke Jakarta, ia sudah ngekost di Depok selama 8 bulan, dan kini ia lebih memilih untuk tinggal di rumah bersama keluarganya dibandingkan harus ngekost sendirian di Depok. Walaupun setiap hari ia harus bolak-balik Depok-Jakarta.
“Ada apa Ma?” Tio muncul dari balik pintu dengan menggunakan kaos putih polos dipadukan dengan celana pendek selutut berwarna cokelat.
“Ya Allah Dek, kamu kenapa?” Tio mengangkat dagu Zahra dan melihat lebih jelas wajah lebam Zahra. Sedangkan sang empunya hanya tersenyum tak berdosa.
“Temennya salah tonjok orang ceunah teh.” Mama langsung mengusap wajah Zahra dengan lembut.
“Cowok?” Tio menaikkan salah satu alisnya sambil menatap Zahra.

Zahra menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Bilang sama Aa yang mana orangnya. Biar Aa bales nanti!” Tio menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.2
Sekedar info, untuk ukuran cowok semacam Tio. Dia adalah tipe-tipe cowok rajin ikut organisasi di kampusnya makanya gak heran kalau dia cukup famous di fakultasnya. Dia juga lumayan pintar, dan yang pastinya rajin sholat. Untuk fisiknya, tubuhnya tinggi sekitar 175cm, kulitnya sudah dapat dipastikan putih karena berhubung keturunan Mamanya yang orang Bandung asli, dan ia pun sejak kecil tinggal di Bandung yang adem ayem.

[…]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.